2024-10-04 | admin

Kenapa banyak sutradara perempuan ‘dikucilkan’ dari sejarah film?

Narasi sejarah film selama ini sering kali menempatkan laki-laki sebagai pusat gravitasi utama. Hal ini https://www.detailingglaze.com/ terjadi karena laki-laki telah mendominasi berbagai aspek industri perfilman sejak bisnis ini mulai mendulang keuntungan besar di Amerika Serikat pada awal era bioskop.

Berikut adalah ulasan mengenai tantangan, realita, dan harapan bagi para sutradara perempuan di panggung sinema dunia:

Ketimpangan Nyata dalam Statistik Global

Jajak pendapat film berbahasa asing terbaik versi BBC Culture menyajikan fakta yang cukup mengejutkan. Meskipun melibatkan 209 kritikus—94 di antaranya adalah perempuan—hanya ada empat sutradara perempuan yang berhasil menembus daftar 100 besar. Mereka adalah Chantal Akerman, Claire Denis, Agnès Varda, dan Katia Lund.

Ironisnya, jumlah film yang disutradarai oleh pria bernama “Jean” di daftar tersebut mencapai tujuh judul. Angka ini secara telak melampaui jumlah total film karya sutradara perempuan dalam daftar yang sama. Ketimpangan volume ini akhirnya memicu kekhawatiran bahwa perempuan berisiko terhapus dari catatan sejarah perfilman dunia.

Fenomena “Perempuan yang Tak Kelihatan”

Kelangkaan pembuat film perempuan bukan sekadar masalah bakat, melainkan masalah ketersediaan karya. Deborah Calla dari Persatuan Produser Amerika menjelaskan bahwa keterbatasan jumlah film karya perempuan menyebabkan mereka jarang memenangkan penghargaan atau masuk dalam seleksi festival besar. Akibatnya, jejak kreatif mereka terlihat lebih kecil di mata publik.

Laporan tahun 2017 memperkuat pandangan ini dengan menunjukkan bahwa festival film utama rata-rata hanya menyaring enam film layar lebar karya perempuan, berbanding jauh dengan 18 film karya laki-laki. Kurangnya visibilitas ini menciptakan siklus yang berbahaya: karena mereka tidak terlihat, sejarah sinema terus ditulis dan diajarkan tanpa melibatkan kontribusi perempuan.

Sejarah yang Terlupakan dan Dominasi Studio

Padahal, sejarah mencatat bahwa perempuan menghuni dekade pertama industri bioskop dengan sangat aktif. Alice Guy-Blaché, misalnya, tidak hanya menjadi sutradara perempuan pertama, tetapi juga perintis film naratif pertama di dunia. Nama-nama seperti Lois Weber di AS hingga Elvira Notari di Eropa sempat mewarnai layar perak dengan gairah inovasi yang tinggi.

Namun, seiring perubahan bioskop menjadi industri bisnis yang masif, sistem studio mulai mendorong perempuan keluar dari kursi sutradara. Sejak tahun 1920-an hingga 1960-an, industri membatasi peran aktif perempuan hanya sebatas aktris. Gerakan hak-hak sipil dan feminisme pada tahun 1960-an barulah mulai mengguncang struktur kaku tersebut dan membuka kembali jalur distribusi bagi mereka.

Hambatan Finansial dan Bias Industri

Bahkan ketika perempuan berhasil menerobos masuk, mereka tetap menghadapi rintangan monumental, terutama dalam hal pendanaan. Statistik menunjukkan bahwa 80 persen sutradara perempuan hanya mampu membuat satu film dalam periode sepuluh tahun, sementara lebih dari separuh sutradara laki-laki berhasil melanjutkan karya kedua atau ketiga mereka.

Selain itu, terdapat perbedaan mencolok antara sistem industri di Amerika Serikat dan negara lain. Di AS, industri film yang bersifat privat sering kali menjadi penghambat bagi perempuan. Sebaliknya, negara-negara yang menyediakan hibah seni dari pemerintah, seperti Iran, justru memberikan peluang lebih besar bagi sutradara perempuan untuk berkarya tanpa terhalang gerbang korporasi.

Titik Terang bagi Masa Depan Sinema

Meski jalannya masih panjang, kondisi mulai menunjukkan perbaikan. Sosok seperti Agnès Varda kini mendapatkan pengakuan yang layak setelah sekian lama terlupakan. Pada tahun 2017, ia menerima penghargaan kehormatan dari Academy Award, menjadikannya sutradara perempuan pertama yang meraih apresiasi tersebut.

Daftar karya hebat lainnya seperti La Ciénaga karya Lucrecia Martel atau Daisies karya Vera Chytilová kini mulai menarik perhatian kritikus. Pengakuan terhadap karya-karya ini membuktikan bahwa kualitas film sutradara perempuan sangat mumpuni. Dengan semakin terbukanya akses dan apresiasi, sejarah perfilman di masa depan diharapkan akan menjadi lebih inklusif dan berwarna.

baca juga : Sejarah Black Cinema 1898-1971” Perlihatkan Era Pria

Share: Facebook Twitter Linkedin